Kamis, 23 Mei 2013

DUA SISI MATA KOIN DANU (kisah perjalanan hidup seorang "...")



episode 1
1 Hari Menjadi Cinta
(The Love Of Forbidden)
Pengenalan tokoh:
Suatu sore duduk seorang remaja diteras rumahnya, raut wajahnya menggambarkan bahwa ,pikirannya sedang tidak berada di tempat saat itu. Gemersik angin,,bercampur riak-riuh suara daun kering membuat siapapun yang sore itu sedang melamun akan terpecah lamunan nya, begitu pun dengan lamunan Danu Prambudi seorang anak remaja pria berusia 19 thn, hari-harinya yang ia lalui bersama ibu, dan adik perempuannya tidak begitu dapat membuatnya tenang untuk melakukan studi nya semenjak ayah nya meninggal dunia.
Belum lagi penderitaan batin yang selama ini menguliti jiwanya, menjadi sebuah lonceng raksasa yang akan menyadarkan ia tentang siapa dia, dan bagaimana dia harus menuntaskan masalah hidup nya,
“kapan, kamu mau berangkat ke kota le?”,sapaan ibu nya membuatnya terbangun kembali dari alam khayalan
“besok sore paling bu, danu berangkat”,dengan senyuman bibir merahnya danu menjawab pertanyaan ibunya.
Setelah keduanya selesai berbincang, danu bergegas ke dalam untuk menyelesaikan rutinitas rumahnya ,yang menjadi kesehariannya dan telah mendarah daging dengan tangan dan pikirannya.

****
Kumandang Azdan maghrib menggema diseluruh penjuru Nusantara, yang akan menggetarkan hati semua umat muslim untuk membuat dua pilihan”tetap berkecimpung pada hal dunianya atau menuntaskan kewajibannya sebagai khalifah Sang Penciptanya”. Aliran air padasan  membasuh setiap lekuk tubuh danu, wudhu sore ini seperti sangat ia nikmati, ia berharap air wudhu itu mempu melunturkan segala hal yang terburuk yang pernah ia alami dalam hidupnya.
Kekhusukan sholat nya sangat dikagumi oleh alam sekelilingya, keadaan senja begitu tenang ,sunyi, seakan turut menikmati sholat danu kepada sang penciptanya.
“Ya, ALLAH , ya ROBBI… hanya satu pinta hambamu bawa aku kedalam jalan Mu yang engkau Ridhoi dan jadikan aku manusia yang Seutuhnya agar aku dapat membahagiakan Ibu dan adikku, Amin”, sepenggal doa yang terucap dari bibir danu
Sepertinya malam itu, malam yang membuat danu begitu lelah, ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di ranjang, ketimbang mendengarkan seruan ibunya untuk makan malam.
Diambil nya ponsel yang ada di atas meja, ia pandangi foto sepasang manusia disana dilayar wallpaper ponselnya, gambar itu adalah foto danu sendiri dengan seorang sahabat yang sangat ia CINTAI,, (CINTAI???????????)
Khayalan danu begitu tinggi, begitu mempesona sejak ia memandangi foto itu, namun tiba-tiba titik air mata nya menetes, terus menangis menganak sungai hingga membasahi bantalnya, hingga matanya terpejam, terbawa kedalam alam mimpi tertidur dengan pulasnya, akibat lelah yang menyerang seluruh sudut tubuh kurusnya.
(apa yang sebenarnya yang terjadi pada danu?)

***
Pukul 14:27, terik matahari seperti tak ada rasa kasihan kepada mahluk dibumi..”panas nya minta ampun” kata itu yang seringkali terucap dikebanyakan bibir manusia. Namun siang itu danu terlihat sibuk berkemas-kemas, sebab sore itu dia hendak kembali ke kota Bandar lampung dan esok melanjutkan rutinitas kuliahnya di Universitas Lampung.
“bawa beras berapa kilo, le?” disela-sela kesibukan, ibu danu melontarkan pertanyaan nya
“bawa, 3 atau 5 kilo, aja bu paling Handoko ma yadi juga bawa bu”, danu mencoba menjawab meski tak sepenuhnya memperhatikan.
Setelah semua siap, dan jam dinding di ruang tamu rumah danu telah menunjukkan pukul 15:15 yang menandakan danu harus segera berangkat, jika tidak segera maka ia kan tertinggal angkot sore itu.
“Bu, Danu berangkat dulu ya.. doa’in danu semoga kuliah danu lacar” sore itu danu mencium tangan ibunya begitu khidmat, seolah ia tidak ingin berpisah dari Ibu yang membesarkannya. Sejurus kemudian danu dan adik perempuan sudah berada di jalan untuk menuju gang desanya.
“Nia, jaga ibu ya.. kamu belajar yang bener disekolah”
“iya, mas pasti…”
Sangat dalam pesan danu pada adik perempuan nya itu, kedua kakak-beradik itu akhirnya telah tiba di ujung gang dan Nampak dari kejauhan angkutan kota berwarna kuning.
“stasiun, om” awal sapaan danu pada sopir angkutan itu
“ya, naik” bersigap sopir menjawab lontaran pertanyaan danu
Nia tak lupa untuk mengucapkan salam jalan  pada kakaknya
“hati-hati ya mas…”
Senyuman manis balasan untuk nia dari kakak yang sagat menyayanginya itu. Bagai kilat akhirnya danu terbawa pergi oleh mobil angkutan itu bersama hembusan angin cinta ibu dan adiknya…
                                                          ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar